Senja itu, cuaca cerah, angin bersahabat,dan sinar sang surya mulai temaram. Aku termangu duduk di barisan anak tangga di depan rumahku. Rumah panggung dengan tinggi 2Meter dari permukaan tanah. Sengaja rumah kami di buat setinggi itu, karena kata emak tempat tinggal kami adalah wilayah banjir. Setiap hujan lebat, air menggenang di sekitar rumahku. Berhari-hari, bahkan berminggu dia menguasai halaman rumah, tempat aku dan adik-adik ku bermain. Dia seakan betah berlama-lama jika sedang bertamu di rumahku. Keluargaku pun sudah terbiasa dengan kehadirannya. Kami seakan sudah bersahabat.
Rumahku berhadapan dengan rumah wak Jannah, seorang janda dengan tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Vito, kelas 4 sekolah dasar. Dhini, kelas 2 sekolah dasar, dan Vita baru berumur 3 tahun. Wak Jannah adalah seorang buruh, atau lebih tepatnya pekerja serabutan. Sejak suaminya meninggal duni dua tahun yang lalu, wak Jannah jarang ada di rumah. Siang malam dia berpacu dengan waktu, mengumpulkan lembar demi lembar rupiah buat ke tiga anaknya. Maklumlah, wak Jannah tak punya ijazah, jadi tak mungkin menjadi pegawai kantoran, apalagi pejabat negara....hehehe....bermimpi pun tidak, begitu kata wak Jannah. Satu-satunya yang bisa di andalkan adalah tenaga dan fisik nya yang kuat. Anehnya wak Jannah selalu tampak ceria. Tak pernah sakit, atau memang sakit yang tidak pernah di rasa oleh nya. Seakan penyakit alergi terhadap tubuhnya.
Senja itu..............
Kulihat wak Jannah tengah bersiap-siap pergi bertugas. Dia menyiapkan "ambung" (sejenis keranjang yang dibawa dengan cara di sangkutkan di atas kepala, biasa dipakai oleh masyarakat Palembang untuk membawa barang-barang atau belanjaan). Kemana pun dia pergi, ambung itu selalu dia sertakan. Seperti sore ini, wak Jannah mendapat tugas dari pak Burhasan untuk menjaga kebun buah Duku miliknya. Jika musim buah Duku tiba, sebagian warga kampung ku bekerja sebagai pemulung dan penjaga kebun Duku. Pak Burhasan, pemilik kebun Duku terluas di kampung ku pun memperkerjakan orang-orang kampung untuk menjaga kebun Duku miliknya. Sebagai upah, mereka boleh mengambil alias memungut buah-buah Duku yang sudah masak dan berjatuhan di bawah pohonnya. Buah Duku tersebut akan di jual di pasar. Di kampungku pasarnya hanya sekali dalam seminggu.
Begitu pun wak Jannah, dengan ambung tersangkut di kepala, celana panjang, baju dinas lengan panjangnya, kaos kakinya pun tak lupa ia kenakan. Wak Jannah beranjak meninggalkan rumahnya. Sebelum berangkat biasanya wak Jannah menyiapkan makan untuk ketiga buah hatinya. Vito lah yang bertugas menyuapi makan serta menjaga kedua adiknya. Ku dengar teriakan wak Jannah dari kejauhan.
" Vito...jaga adik-adikmu, emak mau ke kebun dulu ya, jangan lupa nanti pintunya di kunci..!!"
" Iya Mak !, jawab Vito seraya menutup pintu rumahnya.
Tak lupa, ketika melintasi rumahku, wak Jannah kembali menitipkan ketiga anaknya padaku.
"Rin, titip anak-anak ya...uwak mau cari duit dulu !!" katanya seraya membetulkan letak ambung yang melenceng di jidatnya.
" Siap wak !!" jawabku seraya mengankat tangan seperti orang sedang hormat saat upacara bendera.
Wak Jannah tersenyum, dia tahu kalo aku senang sekali menggodanya. Sebelum menutup pintu aku kembali berteriak untuk menggoda wak Jannah.
" Hati-hati wak...di kebun pak Burhasan ada Harimau, tapi Harimaunya ganteng lho...ntar wak Jannah tergoda...hahahaha...."
Wak Jannah cuma tersenyum dari kejauhan.
********
Malamnya........
Ku intip anak-anak wak Jannah dari celah dinding-dinding rumahnya. Rumah wak Jannah terbuat dari bambu yang di anyam yang biasa di sebut kepang. Rumah mungil itu peninggalan almarhum suaminya. Terlihat cahaya lampu teplok dari dalam saat mataku mulai menemukan celah. Tanpa AC, tanpa televisi, tanpa kulkas. Rumah wak Jannah hanya beralaskan tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan. Itu pun dianyam sendiri oleh wak Jannah. Sedangkan atapnya terbuat dari rumbia. Namun anak-anaknya tak pernah protes dengan keadaan itu.
Kulihat mereka telah tertidur pulas di ruang depan. Anak-anak itu begitu polos. Dengan selembar kain batik yang sudah lusuh, Vito menyelimuti kedua adiknya. Sementara Vito sendiri tidur di dekat pintu, supaya bisa cepat bangun kalau emak pulang, begitu katanya setiap kali ku tanya kenapa dia suka tidur di situ.
Ruang tengah sengaja tak di tempati, kata wak Jannah, ruang itu adalah musholah. Jadi tak boleh untuk tidur. Yah, wak jannah memang wanita yang taat beribadah. Mungkin karena itulah dia terlihat begitu tegar dan selalu ceria dalam mengahadapi cobaan hidup.
Dengan langkah tenang, ku tinggalkan halaman rumah wak Jannah. Kurasa aku mulai mengantuk. setiba di rumah aku langsung menuju kamarku. Tidur bersama kedua adikku. Kulihat mereka sudah pulas. Akupun berniat menyusul mereka, meraih mimpi malamku.....
Keesokan harinya...
Saat akan berangkat ke sekolah, kulihat wak Jannah tengah duduk di bawah rumahnya. Dia tengah memilah-milah buah Duku hasil kerjanya semalam. Buah-buah Duku itu dia masukan ke dalam kantong-kantong plastik ukuran 1/5 kg. kemudian buah Duku itu di masukkan ke dalam ambung bersama dagangan lainnya. Ada sayuran, gorengan tahu, tempe, tak lupa pisang goreng pun ada. Biasanya wak Jannah berkeliling kampung menjajakan barang dagangannya. Dengan senyum terindahku, kusapa wak Jannah yang masih sibuk dengan barang dagangannya.
" waduh...!! sibuk ya wak...?, semalam pulang jam berapa..?, dapat Duku nya banyak ya wak..?" tanyaku
" Rin..Rin....Kamu tuh kalo nanya nggak bisa satu persatu ya..?, uwak bingung mau jawab yang mana..." katanya tanpa bergeming dari tempat duduknya.
" yang mana aja wak, yang penting di jawab..." ujarku.
" semalam uwak pulang jam 3, langsung bikin gorengan ini..." jawab nya seraya menunjuk ke arah keranjang yang penuh dengan kue basah dan gorengan.
" Wow hebat !!"
Dalam hatiku memuji wak Jannah, dia memang wanita kuat dan tegar. Kusapa ia sekali lagi sebelum aku berlalu.
" Wak, Rini berangkat sekolah dulu ya....daaa...daa....uwak...." kulambaikan tanganku padanya, kulihat dia tersenyum padaku.
*********
Dua tahun kemudian.....
Di usia yang menginjak remaja, aku kembali melanjutkan study ke sekolah menengah atas. Orang tuaku memilih sekolah kejuruan untukku. Biar cepat dapat kerja, biar bisa mandiri, begitu kata bapak. Aku menurut saja. Di sekolahku yang baru, aku tinggal di asrama sekolah. Karena terlalu jauh kalau harus pulang pergi dari rumah ke sekolah. Ku tinggalkan kampung halaman ku., ku tinggalkan keluarga, termasuk wak Jannah yang sudah kuanggap seperti uwak ku sendiri.
Setiap dua minggu, aku pulang mengunjungi keluarga dan kampung halaman ku. Meskipun tergolong sebagai kampung miskin, tapi aku bangga terlahir disana.
Seperti biasa, hari itu saat pulang kampung aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah wak Jannah. Aku selalu senang mengobrol dengannya. Jika dia sedang tak bekerja, dia suka menceritakan kisah hidupnya padaku. Bak dua sahabat, kami pun saling berbagi kisah.
Ketika ku tanya penyebab kematian almarhum suaminya, dengan santai wak Jannah menjawab: " Itu sudah kehendak yang kuasa Rin, penyebab kematian seseorang itu hanya kebetulan saja. Kalau Allah sudah menghendaki, kalau sudah tiba saatnya, kapan pun, dimana pun, kita tak bisa menolaknya. Karena kita pasti akan kembali. Kita tak boleh menyalahkan penyebab kematian, tapi kita harus mengambil hikmahnya dari setiap kejadian."
Aku hanya diam mendengarkan wejangan wak jannah. Wak Jannah tak pernah bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan ku. Dan saat ku tanya arti dari namanya, dia pun tersenyum seraya mengatakan kalau namanya berarti surga.
" kenapa Rin ?, ada yang aneh dengan nama uwak ya?" tanya nya penuh penasaran.
" Iya wak !!" jawabku sekenanya.
" Apanya yang aneh? " tanya nya lagi.
" Begini wak, namaa uwak kan Jannah, berarti surga, tapi kenapa kehidupan uwak penuh dengan cobaan dan nestapa ?" jelasku.
" Wak jannah tersenyum menatapku, sembari duduk di anak tangga rumahnya, dia pun kembali memberi wejangan padaku.
" Rini...Rini....memang benar arti dari nama uwak adalah surga, tapi bukan berarti dengan memakai nama itu uwak bisa hidup bahagia seperti di surga. Namun uwak berharap, semoga suatu hari jika uwak telah tiada, uwak bisa menjadi salah satu penghuni surga_Nya.
Akh...aku terdiam mendengarnya, cita-cita wak Jannah sungguh indah. Dalam hatiku hanya berharap semoga Tuhan mengabulkan pintanya.
********
Lima tahun kemudian......
Aku tak pernah tau secara detail tentang kejadian-kejadian yang terjadi di kampung halamanku. Selepas SMU, aku mengadu nasib ke ibukota, bekerja disana. Hingga aku menemukan jodohku, menikah, dan menetap disana. Saat hari raya tiba, biasanya aku pulang kampung, tapi tak setiap hari raya aku bisa pulang. Seperti tahun ini, aku, suami, dan kedua anakku pulang kampung. Rindu rasanya dengan orang-orang yang aku cintai disana. Apalagi ku dengar kabar, bahwa setahun yang lalu orang tuaku pindah rumah ke kampung sebelah. Aku sangat ingin melihat keadaan mereka sekarang.
Setiba di kampung, aku menuju kediaman orang tuaku. Tatapan mata-mata aneh, mulai kurasakan. Mungkin karena mereka tak mengenalku, dan aku pun tak kenal dengan mereka.
Hingga saat akan melaksanakan sholat id, aku memutuskan untuk sholat id di kampung lamaku. Aku rindu dengan teman-temanku dan orang-orang yang ada disana.
Bersama suamiku, akupun bergegas menuju sebuah masjid terbesar dan satu-satunya yang ada disana. Masjid Almuhajirin. Masjid itu berdiri atas sumbangsih dari masyarakat.
Setiba disana, kulihat sudah sangat ramai, hingga aku harus rela hanya kebagian di saf belakang. Seperti biasa, sebelum sholat Id, pihak pengurus masjid menyampaikan berbagai macam pidato. Ada dari bagian zakat, laporan keuangan masjid, dll dech......
itulah adat dan tradisi di kampung ku.
Usai sholat Id, kami pun saling bersalaman dan saling bersilaturahmi. Ku ulurkan tanganku tuk bersalam-salaman dengan teman lamaku. Tak lupa para ibu-ibu yang hadir juga ku jabat. Setelah kurasa cukup silaturahmiku, aku melipat mukena dan kumasukkan ke dalam tas jinjing yang ku bawa. Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang memanggil-manggil namaku.
" Rinnnnnnii...."
Spontan aku menoleh ke arah asal suara. Seorang ibu tua berdiri dan melihat kearahku. Dalam kebingungan yang tiba-tiba menghinggapi perasaanku, ku ulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya. Aku semakin bingung saat dia menyambut tanganku dengan tangan kirinya. Dia tersenyum menatapku. Dia tahu, bibirku menyimpan sejuta tanya untuknya.
" Rin, ini uwak...wak Jannah..!"
" kamu bingung ya melihat keadaan uwak seperti ini?"
Belum selesai penjelasannya, aku langsung memeluknya erat. Airmata ku tumpah bak cucuran air langit, membanjir deras tanpa mampu ku bendung. Aku menangis di pelukannya. Bibirku kelu tanpa sanggup berkata-kata. Aku hanya bisa menghapus airmataku saat wak Jannah mengatakan kalau tangannya putus karena kecelakaan. Setahun yang lalu, saat wak Jannah tengah menjajakan dagangannya di dekat stasiun kereta api. Tiba-tiba sebuah kereta api melaju kencang disisi tempat wak Jannah berdiri. Dan menyerempetnya hinga tangannya putus sebatas bahu.
Melihatku diam, wak jannah tersenyum padaku. Dengan tangan kirinya dia menggenggam tanganku. Tak ada duka di wajah nya. Tak ada airmata. Kulihat ketegaran itu tampak indah menghias wajah keriputnya.
" Kita tak perlu menangis, kita pun tak boleh menyesali diri, semua yang kita miliki adalah titipan dari yang kuasa, itu bukan milik kita. Meski kini uwak sebatang kara, tapi uwak bahagia, uwak bersyukur masih di beri kesempatan untuk terus beribadah. Saat Tuhan mengambil anak-anak uwak, uwak hanya bisa pasrah. Mungkin itu yang terbaik buat mereka. Mereka hanya amanah bagi uwak, uwak sudah berusaha menjaga dan mengobati mereka saat wabah malaria itu menyerang. Tapi mereka tetap pergi......mereka diambil Tuhan......uwak ikhlas...."
kulihat airmata menetes perlahan di pipi wak Jannah, ia usap dengan punggung tangannya. Pandang matanya kosong. Perih. Kulihat luka di hatinya. Aku pun kembali terisak di pelukannya. Erat aku memeluknya, hanya untuk berbagi beban yang memenuhi rongga dadanya. hanya itu yang bisa aku lakukan.
" Rin, uwak senang bisa melihatmu sekarang sudah bahagia, semoga kamu selalu bersyukur dan mengingat Tuhan dalam sujud-sujudmu.
********
Kuhapus airmata ku, mengingat segala hal tentang wak jannah membuat ku kembali larut dalam kesedihan. Tapi di satu sisi hatiku, aku bahagia bisa mengenal orang sekuat dan setegar wak Jannah. Ku ingin mengenangnya sampai kapanpun, meski aku tak mampu seperti dia.
Terimakasih wak Jannah, kau telah mengajarkan banyak hal berharga padaku. aku bangga padamu. Bangga.......
* * * * S E L E S A I * * * *
NOTE : Cerpen ini di muat dalam buku kumpulan cerpen " Sahabat Di kamar mandi" Karya Iis istrini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar