Sabtu, 26 Maret 2011

TUHAN, SALAHKAH BILA AKU MENCINTAINYA

tentang aku :
Namaku Vielsya alwindira renqill, aku terlahir dari keluarga terhormat. Atau lebih tepatnya keluarga yang mencari kehormatan. Kehormatan yang telah hilang, hingga kami harus mencarinya. Ayahku seorang narapidana, pemasok heroin kelas atas di negeri ini, sementara ibuku, seorang pemasok para lelaki hidung belang atau yang lebih di kenal dengan sebutan gigolo, tak heran, bila sesekali ibuku mengencani sendiri stok barang yang dia punya. dan aku, tidak suka alias sangat tidak menyukai pria atau yang biasa di sebut laki-laki.

aku sangat membenci laki-laki. sebagaimana aku membenci ayahku dan para gigolo peliharaan ibuku.



Oh ya, panggil saja aku Viel.

saat ini aku tercatat sebagai salah satu siswa SMU di kota ku. Dengan seragam abu-abu yang aku kenakan, kalian pasti mengerti bahwa aku seorang remaja yang tengah ranum, dan sangat-sangat seksi di mata para lelaki. Dengan tinggi badan 165 cm, dan berat 50 kg, membuat diriku terlihat cantik dan semampai.



Sobat,
Dalam hidupku aku tak pernah mengenal yang namanya CINTA. Orang bilang cinta itu indah. Entahlah, itu tak pernah ku rasakan. Tak pernah ada laki-laki yang dekat dengan ku. karena aku membencinya. Ku habiskan hari-hariku bersama seorang sahabatku. Sebut saja namanya Lea, dia cantik, anggun, seksi dan cerdas. Aku sangat mengaguminya. Yupz..dialah sahabatku satu-satunya di dunia ini. Kebersamaan kami terjalin indah dalam balutan senyum dan tawa.

Tak terpisahkan !!
mungkin itu kata yang tepat untuk kami. Dimana ada Lea, disana pasti ada Viel. Pertemanan kami berawal karena aku dan Lea satu kost. Lea cantik, anggun, berkulit putih, dan terkesan pendiam. Sikap cuek yang dia miliki membuatnya terasing dari teman-teman yang lain. Dan aku, aku selalu ada untuknya.


******

Suatu hari, sepulang sekolah Lea menangis dikamar mandi tempat kost kami. sedu sedan dan isaknya terdengar memilukan. Nampaknya ia terluka. Aku hanya bisa diam. Ku dekati dia , ku rebahkan kepalanya di pundakku, erat tanganku memeluk pinggangnya.
ada kedamaian menyusup di antara puing-puing hatiku yang pernah terkoyak oleh manusia. Ya, Lea adalah sahabat satu-satunya yang tahu segalanya tentang diriku. Dia bagian paling berharga dalam duniaku.
Bukan ayah dan ibuku.

Sejenak kulihat Lea mengusap airmatanya. Kedua mata bening itu basah. Mata teduh itu tampak kosong, penuh luka.
Lea, siapa yang melakukan semua ini ?, yang membuat senyum indah mu sirna, yang membuat candamu hilang seketika. Kau nampak terluka.
Tuhan......tak tega diriku melihat luka menguak di kedua bolamata Lea.
Izinkan aku memberikan seuntai senyum untuknya, agar ia merasa dunia ini indah.

" Le'....ada apa denganmu?"
" kenapa kamu menangis..??"

Lea hanya menatap barisan ubin kamar mandi yang terdiam pasrah. seakan ia tumpahkan segenap perasaannya di sana. Tak kulihat sedikitpun tanda-tanda ia akan menatapku. atau sepenggal kata tuk mengungkap resahnya. Lea diam. Lea terluka. dan ini adalah lukaku. Sahabat Lea.

"Le'.....Please...ngomong donk !"
Lea masih diam, melepaskan pelukan eratku dari tubuh mungilnya. Yah...aku pasrah. Aku pun diam. Menikmati setiap titik-titik air yang tengah berderai menyapa bumi. Rinai hujan di senja ini terasa pilu di hatiku. Tiada lagi canda tawa, senda gurau, dan jerit pekik aku dan Lea yang tengah asyik bermandi hujan seperti di senja-senja kemarin.

" Viel........"
tiba-tiba samar kudengar suara Lea memanggilku.

" Iya Le'....bila memang kamu mau bicara, silahkan, tapi bila tidak saat ini, aku tidak apa-apa kok, aku ngerti perasaanmu....." ucapku seraya memandang hamparan rumput yang menghijau di kejauhan. sejuk merasuk dadaku bila mataku melihat keindahan alam yang di cipta Tuhan untuk umatnya itu.

" Viel.... Ternyata kamu benar. Lelaki itu jahat ya?, Rakha telah membuat aku menangis hari ini. Aku tak mau mengenalnya lagi......"

" Lho....??, kamu dan Rakha kan pacaran..?, kenapa kamu jadi begitu benci sama dia? " tanyaku dalam balutan rasa bingung.

" Iya Viel...Tapi sekarang tidak. Rakha mencintai Clara, bukan aku. aku melihat sendiri saat mereka berpelukan mesrah di belakang kantin sekolah tadi pagi....."

" Hmmmm......." aku hanya bisa menggumam mendengar tutur jujur dari Lea.

Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku marah, membuncah segenap rasa. Aku membenci airmata, sebagaimana aku benci ayah. aku membenci cinta, sebagaimana aku benci bila melihat ibu. Aku benci mereka..!!. Dan sekarang........RAKHA..!!. Dia telah membuat aku melihat airmata dan luka karena cinta. Aku membenci keduanya.



********




Sepulang sekolah aku sengaja berhenti sejenak di pertigaan jalan yang menuju tempat kost ku. Yupz...anak 2B belum pulang. Lea dan Rakha ada di kelas itu. Ku sandarkan sejenak lelahku di sisi rindangnya pohon palem yang terdiam kalem. sepoi angin membuat mataku sejenak terlelap.Tapi tak lama. Detik berikutnya telah berganti suara hiruk-pikuk anak-anak 2B yang mulai berhamburan keluar kelas. Sengaja aku tak beranjak dari tempat duduk ku. Mataku sibuk mencari sosok seorang lelaki dengan postur semampai dan atletis, rambut cepak, hidung mancung dan bermata elang. Rhaka. Ku tajamkan pandangan mataku, nanar kesana kemari, namun Rhaka tak menampakkan batang hidungnya. Entah kemana mahkluk yang satu itu. Semua teman sekelasnya nyaris menghilang satu persatu dari pandanganku, namun sosok yang ku cari tak jua ku jumpai.
Ukh, sial banget tuh anak, tau aja kalo aku lagi nungguin dia. Gerutu ku sembari melemparkan kerikil-kerikil kecil ke tepian jalan. Hari yang terik menambah panas otakku. Membakar tubuh dan emosi di jiwaku. Nyaris satu jam penantian ku, dari kejuhan kulihat sosok yang ku cari. Rakha. Tapi...upss...dia tengah berdua dengan Clara, pacar barunya. Ku kepalkan tinjuku, gigiku merapat hingga menimbulkan suara gemeletuk yang keras. Ingin ku tukar airmata Lea dengan darah dari bibir manis Rakha. Saat melintas di depanku, aku segera bangkit, menghalangi jalannnya. Sengaja aku berkacak pinggang di depannya. Dia memandang ku dengan pandangan aneh, begitu juga dengan Clara, si cewek pirang yang sok bule itu. Mataku lekat memandang kedua bola matanya, yang menurut cewek- cewek MATA ELANG itu. Ternyata dia pun menatap tajam ke arahku, nampaknya tak mau kalah. Bibirku mengatup menahan amarah. Gemeretak suara gigiku tak menyurutkan nyali nya. Hmm...boleh juga nih cowok, pikirku. Aku maju selangkah ke arah nya. Dia diam.

“ ough...jadi ini cowok yang bernama Rakha , yang di bilang tampan ama anak-anak 2B itu..?” huuh..!!
“hmm, emang kenapa?, kayaknya aku gak punya urusan dech ama kamu ! “ jawabnya seraya melepaskan pelukan di pinggang kekasihnya.
“ Jelas saja ada, karena kamu udah melukai perasaan Lea, dia sahabat ku, ngerti kamu !! “
“ ough...jadi si cengeng itu temen kamu ?”
“ Iya, baru tau ya?, dia sahabat ku, dan siapa pun yang menyakitinya maka akan berurusan dengan ku !”
“ huahahahaha...mau jadi dewi penolong Non....hahahaha....”
Bruaaaaaakkk.....
Tubuh Rakha tersungkur mencium semak belukar di sisinya berdiri. Kesabaran ku sudah habis, ternyata tendangan maut ku keren juga.( Hehehe...mampus kau !).
Rakha segera bangkit di bantu sama Clara sang kekasih hatinya.( Hoohohoho...kayak film india aja). Tak lupa Clara membersihkan kotoran yang menempel di baju Rakha. Wajah Rakha merah padam. Antara malu dan marah. Tiba- tiba Rakha mendekat ke arah ku, dan mengepalkan tinjunya, mengarah tepat di bibir ku. (upss...sabar boy...hehe), aku mengelak dengan santai. Tapi rupanya Rakha hanya mengecoh ku. Sesaat kemudian tendangannya telah bersarang di pantat ku. Wow...keren. ( lumayan juga sich, sakit). Dan aku tak mau menyerah begitu saja, seraya membalikan tubuh ku, kepalan tinjuku pun bersarang di bibirnya.
Dugh...!!
“ Ough..” Rakha menjerit tertahan. Darah segar menyembur dari pinggir bibirnya. Sementara Clara, menangis tersedu di bawah pohon palem melihat bibir kekasihnya mengucurkan darah. Mau mendekat tapi takut sama aku, jadinya dia hanya diam saja. Sementara Rakha masih berdiri tegak di depan ku. Tangan kanan nya mengusap- usap bibir nya yang berdarah.
“ Viel, kenapa sich kamu ngelakuin ini ke aku?, emang aku salah apa ke kamu, aku kan Cuma jahatin Lea, bukan kamu “
“ Hm, kayaknya pelajaran tadi belum cukup buat kamu !”
“ kok??”
“ Iya, kamu sudah bikin Lea nangis sehari semalam, jadi harusnya kedua sisi bibirmu itu aku hancurkan, karena ucapan dari bibir itulah yang bikin Lea nangis. Apalagi liat kamu peluk- pelukan ama Clara...huhu...hancur tuh hati sahabat ku, ngerti kamu !!”
“ Iya Viel, tapi kan, aku sudah bilang ke Lea, kalo kita udah gak ada hubungan apa- apa lagi alias PUTUS...”
“ Okey, Lea terima kok keputusan kamu, lagian, aku Cuma mau balaskan sakit hati teman ku aja kok..hehe....”
“ Gila kamu Viel !!, habis nonjok malah nyengir...dasar banci! “
Viel tau banget makna kata “Banci” yang di lontarkan Rakha. Karena memang penampilannya atletis dan cowok banget. Rambut nyaris cepak, dan tak pernah pakai rok. Untung di sekolahnya bebas. Tak ada larangan mau pakai rok atau celana panjang.
Huahahahahaha......
Tawa Viel membahana, tanpa a i u dia langsung ngeloyor pulang meninggalkan Rakha dan Clara yang masih bengong.

******

Lea duduk- duduk santai di beranda depan kamar kost nya. Sementara Viel sibuk dengan blender dan buah untuk di buat Juice. Sebuah Mangga yang telah ranum sudah di kupasnya. Kemudian dimasukannya ke dalam blender dan segera ia memencet tombol ON pada belender nya.
Zzziiiinggggg.....
Suara blender memecah kesunyian senja itu. Tak lama kemudian, hening. Dan, segelas juice mangga sudah ada di tangan Viel.
“ Le’, kamu mau juice mangga gak?”
Lea hanya mengangguk tanpa menatap ke arah Viel. Viel lalu duduk berselonjor kaki di sisi Lea. Mata nya memandang keindahan bunga- bunga aster yang bermekaran di taman. Di halaman tempat kost mereka. Warna- warni bunga aster itu nampak indah. Begitu pun dengan seekor kupu- kupu bersayap coklat yang terbang di atas kelopak bunga. Cantik sekali. Tiba-tiba tangan Viel meraih jemari Lea. Lea tersentak kaget karena genggaman tangan Viel di rasa aneh olehnya. Erat dan mesrah.
“ Viel, kamu kenapa?, kok kayak orang pacaran aja, kamu iri sama dua kupu- kupu itu ya?, jadinya kamu pegang tangan aku?...” tanya Lea heran.
‘ hehehe....”
Viel Cuma nyengir kuda. Tapi genggaman tangannya makin erat, dan sesaat kemudian Viel menggeser posisi duduknya merapat ke arah Lea. Lalu matanya menatap sendu ke dua bolamata Lea. Lea hanya diam, tak mengerti dengan sikap Viel padanya. Tiba- tiba Viel memejamkan matanya dan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Lea. Lea tersentak kaget, dan segera menjauh dari sisi Viel.
“ Viel, kamu kenapa sich ?, Aneh tauk !!”
“ Aku suka sama kamu Le, suka bukan hanya sebatas teman. Aku mencintaimu Le...” ucap Viel polos tanpa merasa bersalah.
“ Kamu serius Viel?, gila kali, masa’ kamu suka sama aku?, kita kan sama- sama cewek Viel..”
“ Justru itu Non !, aku gak suka cowok, makanya aku suka sama kamu..hehe...”
“ Ikh...gak akh...apaan sich kamu !”
Lea nampak kesal dengan sikap Viel. Lalu ia berlari menuju kamarnya. Sementara Viel hanya diam saja. Ia tetap duduk santai seraya menikmati segelas juice mangga buatannya.
Lea menangis tersedu di kamarnya. Ia tak menyangka kalau sahabat nya adalah seorang lesbi. Viel adalah sahabat baiknya. Viel juga segalanya buat dia. Tiga tahun kebersamaan mereka membuat kedua nya selayaknya saudara kandung. Lea tak sanggup menghadapi kenyataan tentang “penyakit” sahabatnya. Lea bingung apa yang harus dia lakukan.

Hingga malam menjelang pun mata Lea enggan terpejam. Sementara Viel sudah tertidur pulas disisi nya. Lea menggeser posisi tidurnya, ia merasa jijik melihat Viel yang ternyata seorang lesbi. Detak waktu menunjukkan angka 1 tengah malam. Lea masih tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya masih di hantui perasaan aneh atas kejujuran dan sikap Viel. Apa yang mesti dia lakukan sekarang?, tak mungkin baginya menerima cinta Viel. Tak mungkin pula ia meninggalkan sahabatnya itu. Akhirnya ia menangis di sisa malam yang kemudian berganti pagi.

****

Viel terbangun dan tersentak kaget melihat Lea tak ada di kamarnya pagi itu. Mulanya ia mengira kalau Lea tengah ke kamar mandi, tapi saat melihat lemari pakaian yang acak- acakan, tau lah dia bahwa Lea pergi. Viel segera bangkit untuk memeriksa lemari pakaian mereka. Benar saja. Pakaian Lea sudah tak nampak disana. Yang terlihat hanya selembar kertas dan sebait kalimat tulisan tangan Lea.
“ Maafkan aku Viel, aku terpaksa pergi, semua demi kebaikan kita. Aku tak bisa menrima mu sebagai kekasihku, tapi aku pun tak mampu menyakiti hatimu atas penolakan ku. Kau adalah sahabat, saudara, dan bagian terindah di hidupku. Selamat tinggal Viel...”

Airmata Viel menetes membasahi kertas putih di genggaman tangannya. Perlahan ia meremas kertas itu menjadi gumpalan. Lalu membuangnya ke lantai. Viel jatuh terduduk di lantai dengan lemas. Hari itu ia tak ingin berangkat ke sekolah. Ia bergegas mencuci muka lalu memakai sepatu kets nya, tak lupa sebuah ransel ia sandang di pundaknya. MENCARI LEA !!. itu tujuan nya hari ini

Jalanan pagi yang masih basah serta semilir angin dingin menusuk pori dan menikam tulang belulang tubuhnya. Tak menyurutkan langkahnya untuk mencari sahabatnya. Setiba di tepian jalan raya, ia menyetop kendaraan umum yang kebetulan lewat. Sebenarnya ia tak tahu harus kemana mencari lea, tapi ia ikuti saja kata hatinya. Baru beberapa kilo meter mobil berjalan, tiba-tiba nampak orang- orang berkerumun di tepian jalan. Suara ramai orang- orang itu membuat Viel penasaran. Dan ia pun turun dari angkutan umum. Menyeruak ke arah kerumunan massa.
Degh...degh...degh....
jantungnya berdegup kencang, perasaan cemas menghantui pikirannya. Benar saja, matanya terbelalak kaget begitu melihat siapa yang tergeletak di tempat itu. Lea. Lea kecelakaan. Darah mengucur deras dari hidung, mata serta telinga nya. Tapi jantungnya masih berdetak. Jemari tangannya masih hangat. Denyut nadi masih terasa di pergelangan tangan mungil itu. Menurut keterangan warga, pukul 03.00 WIB tadi, sekelompok anak muda mengadakan trek sepeda motor di kawasan itu. Tanpa sadar, Lea melintas. Dan akhirnya, lea tertabrak. Sementara anak- anak muda itu tak satu pun yang peduli.
Viel memegang lembut jemari tangan Lea yang sudah dingin dan mulai lemas. Airmata nya luruh, karena ia tau, Lea gak mungkin bisa selamat. Perlahan ia mengangkat tubuh Lea ke pangkuannya. Ia memeluknya erat. Hingga detik- detik hilangnya detak di nadi Lea. Viel histeris. Jiwanya goncang. Ia berteriak- teriak di pagi basah itu. Karena hujan tiba- tiba berderai luruh membasahi bumi.
“ Tuhaaaaaaannn...kenapa kau ambil dia???”
“ Dia satu- satu nya orang yang aku sayangi dan aku cintai, Tuhan...”
“ Kenapa bukan aku saja yang Kau ambil?, kenapa Tuhaaaannn....??”
Airmata makin deras mengguyur pipi tirus nya. Viel nyaris putus asa. Ia menelungkupkan tubuhnya ke tanah yang basah. Menyatu dengan air hujan yang semakin deras. Ia tak berdaya. Ia kehilangan. Ia sakit. Kembali tangan nya memeluk erat tubuh Lea, terdengar suara lirih dari bibirnya....
Tuhan...salahkah bila aku mencintainya ??



T A M A T

Ruang Ilusi

bersenggama di ruang ilusi
di tepian malam
yang tak kunjung berganti pagi

baitbait kata merangkai makna sua
lembaran kisah bermula sudah

bisik angin tentang nista
tak surutkan langkah
enggan !
ingin tetap memeluk bulan
meski purnama telah hilang...


iis istrini_ 26 Maret 2011

HATI

tersadar ku dari alpa
kala hatimu menyapa
kau tumbuhkan bulirbulir cinta
yang kau semai dulu kala

kepasrahan bagai kabut tebal menutup segala
kesadaran nyaris punah oleh rasa
cinta, cinta kita......

yang ku tahu kini
aku milikmu seutuhnya


iis istrini_ maret 2010

Rabu, 16 Maret 2011

INDAH, CINTAMU MENYAPA

gegap gempita
memenuhi relungrelung jiwa

dentuman tamburtambur rindumu
memekakkan kalbuku

kau teriakan cinta
bergema di ruang dada
ku terpesona

gemanya mengalun indah
melintasi sarafsaraf otakku
mengayun langkah
menyusur aliran darah

tanpa raga
tanpa rupa
indah, cintamu menyapa


iis istrini_ 25 Agustus 2010

TERBELENGGU

mencintaimu adalah melumat segala perih
mencintaimu berarti menahan segala sakit
dalam duka, luka dan airmata

itu yang ku lakukan !

namun cinta tetaplah cinta
tak mampu ku pungkiri rasa

guratan pelangi yang pernah kau cipta
tak terhapus meski senja menyapa

bahkan saat gulita datang, ia tetap indah
tak nampak mata, namun begitu terasa

tak mampu lagi kuraih hatiku
yang telah terpenjara dinding kokoh cintamu
entah sampai kapan ?
: aku terbelenggu....


iis istrini_ 26 Nov 2010

ENTAHLAH

entahlah, kapan kisah kita di awali
kapan cinta itu mulai tumbuh
bersemi, indah, mekar serupa kelopak bunga

entahlah, aku tak pernah tahu

hadirmu bagai pelangi
hiasi hariku dengan pesona warnawarna indahmu
tiada kata ragu, atau pun jemu
engkau bak malaikat di jiwaku

entahlah.....
aku pun tak tahu, kapan kisah kita di akhiri
hingga kini, aku belum tersadar dari mimpi


iis istrini_ 31 Desember 2010

BILA AKU BUKAN MILIKMU

bila aku bukan milikmu
jangan pernah sesali temu
tak guna pula kau tangisi perih
biarkan hati merintih
lirih........ 

ANTARA KAU, AKU, DAN MIMPI MU

sampai kapan hariku mendekap sepimu ?
sementara malam melantun tanpa kisah indah

kau berdiri di simpang mimpi
fikirmu menyimpan tanya
masih adakah rinduku untukmu ?

malam ku bukan malam mu lagi

meski mimpi mu masih bersamaku
meski malam ini berbeda dengan malam yang lalu

tetap saja kau sisakan kenangan tentangku
di ikhlas cintamu....


iis istrini_ 29 Desember 2010

ANGANMU JAUH MENAUT SEPI KU

menatapku di tiris gerimis, hatimu terkikis, miris
menatapku diantara embun pagi, seperti sebuah elegi
menatapku di antara pepasir, hatimu getir

kabut malam membawaku serta
meninggalkan jejak luka
di bilik hati, tertinggal sepi

mengapa tercipta luka ini ?
sementara hati tak memungkiri
kau ingin memiliki, meraih
bukan hanya jiwa tapi raga

ku tahu.....
disana, diantara bebukit
anganmu jauh menaut sepiku

iis istrini_ 6 Juni 2010

SENANDUNG MALAM

Senandung jangkrik menyapa malam
sayupsayup mendayu merdu
namun terdenngar pilu
dalam redup lampu temaram
ia berjalan timpang

adakah jalan yang tak menyesatkan?
adakah jalan tanpa onak duri ?
adakah jalan menuju sorga hakiki ?
bertanya ia pada rembulan...

rembulan diam, redup perlahan
meninggalkan ia yang masih menatap harap
akan jawab yang ia ratap

namun rembulan menghilang
membawa jawab yang tak kuasa ia ucap


iis istrini_ 21 Juni 2010 

Selasa, 08 Maret 2011

Iis istrini_ 08 Maret 2011

aku masih serupa benang
terberai
tercerai
lunglai
tak pernah mampu
berdiri tegak serupa tonggak
hanya diam dalam gamang di remang malam

Iis istrini_ 08 Maret 2011

ketika rembulan menyapa malam
kulihat sendu di bibir mega
sembab di tepian kelopak mata
goresan luka memintal sesal

nyanyian jangkrik tak lagi mengerik
sumbang
sendu di hias pilu

kau renda bahagia di tirai kasihmu yang ternoda
kau sulam kerinduan di tepian lembar kenangan

Kamis, 24 Februari 2011

KISAH WAK JANNAH

            Senja itu, cuaca cerah, angin bersahabat,dan sinar sang surya mulai temaram. Aku termangu duduk di barisan anak tangga di depan rumahku. Rumah panggung dengan tinggi 2Meter dari permukaan tanah. Sengaja rumah kami di buat setinggi itu, karena kata emak tempat tinggal kami adalah wilayah banjir. Setiap hujan lebat, air menggenang di sekitar rumahku. Berhari-hari, bahkan berminggu dia menguasai halaman rumah, tempat aku dan adik-adik ku bermain. Dia seakan betah berlama-lama jika sedang bertamu di rumahku. Keluargaku pun sudah terbiasa dengan kehadirannya. Kami seakan sudah bersahabat.

             Rumahku berhadapan dengan rumah wak Jannah, seorang janda dengan tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Vito, kelas 4 sekolah dasar. Dhini, kelas 2 sekolah dasar, dan Vita baru berumur 3 tahun. Wak Jannah adalah seorang buruh, atau lebih tepatnya pekerja serabutan. Sejak suaminya meninggal duni dua tahun yang lalu, wak Jannah jarang ada di rumah. Siang malam dia berpacu dengan waktu, mengumpulkan lembar demi lembar rupiah buat ke tiga anaknya. Maklumlah, wak Jannah tak punya ijazah, jadi tak mungkin menjadi pegawai kantoran, apalagi pejabat negara....hehehe....bermimpi pun tidak, begitu kata wak Jannah. Satu-satunya yang bisa di andalkan adalah tenaga dan fisik nya yang kuat. Anehnya wak Jannah selalu tampak ceria. Tak pernah sakit, atau memang sakit yang tidak pernah di rasa oleh nya. Seakan penyakit alergi terhadap tubuhnya.

               Senja itu..............
               Kulihat wak Jannah tengah bersiap-siap pergi bertugas. Dia menyiapkan "ambung" (sejenis keranjang yang dibawa dengan cara di sangkutkan di atas kepala, biasa dipakai oleh masyarakat Palembang untuk membawa barang-barang atau belanjaan). Kemana pun dia pergi, ambung itu selalu dia sertakan. Seperti sore ini, wak Jannah mendapat tugas dari pak Burhasan untuk menjaga kebun buah Duku miliknya. Jika musim buah Duku tiba, sebagian warga kampung ku bekerja sebagai pemulung dan penjaga kebun Duku. Pak Burhasan, pemilik kebun Duku terluas di kampung ku pun memperkerjakan orang-orang kampung untuk menjaga kebun Duku miliknya. Sebagai upah, mereka boleh mengambil alias memungut buah-buah Duku yang sudah masak dan berjatuhan di bawah pohonnya. Buah Duku tersebut akan di jual di pasar. Di kampungku pasarnya hanya sekali dalam seminggu.

                Begitu pun wak Jannah, dengan ambung tersangkut di kepala, celana panjang, baju dinas lengan panjangnya, kaos  kakinya pun tak lupa ia kenakan. Wak Jannah beranjak meninggalkan rumahnya. Sebelum  berangkat biasanya wak Jannah menyiapkan makan untuk ketiga buah hatinya. Vito lah yang bertugas menyuapi makan serta menjaga kedua adiknya. Ku dengar teriakan wak Jannah dari kejauhan.

                " Vito...jaga adik-adikmu, emak mau ke kebun dulu ya, jangan lupa nanti pintunya di kunci..!!"
                " Iya Mak !, jawab Vito seraya menutup pintu rumahnya.
Tak lupa, ketika melintasi rumahku, wak Jannah kembali menitipkan ketiga anaknya padaku.
"Rin, titip anak-anak ya...uwak mau cari duit dulu !!" katanya seraya membetulkan letak ambung yang melenceng di jidatnya.
" Siap wak !!" jawabku seraya mengankat tangan seperti orang sedang hormat saat upacara bendera.

               Wak Jannah tersenyum, dia tahu kalo aku senang sekali menggodanya. Sebelum menutup pintu aku kembali berteriak untuk menggoda wak Jannah.
" Hati-hati wak...di kebun pak Burhasan ada Harimau, tapi Harimaunya ganteng lho...ntar wak Jannah tergoda...hahahaha...."
Wak Jannah cuma tersenyum dari kejauhan.



                                                                          ********

             Malamnya........
             Ku intip anak-anak wak Jannah dari celah dinding-dinding rumahnya. Rumah wak Jannah terbuat dari bambu yang di anyam yang biasa di sebut kepang. Rumah mungil itu peninggalan almarhum suaminya. Terlihat cahaya lampu teplok dari dalam saat mataku mulai menemukan celah. Tanpa AC, tanpa televisi, tanpa kulkas. Rumah wak Jannah hanya beralaskan tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan. Itu pun dianyam sendiri oleh wak Jannah. Sedangkan atapnya terbuat dari rumbia. Namun anak-anaknya tak pernah protes dengan keadaan itu.

              Kulihat mereka telah tertidur pulas di ruang depan. Anak-anak itu begitu polos. Dengan selembar kain batik yang sudah lusuh, Vito menyelimuti kedua adiknya.  Sementara Vito sendiri tidur di dekat pintu, supaya bisa cepat bangun kalau emak pulang, begitu katanya setiap kali ku tanya kenapa dia suka tidur di situ.

               Ruang tengah sengaja tak di tempati, kata wak Jannah, ruang itu adalah musholah. Jadi tak boleh untuk tidur. Yah, wak jannah memang wanita yang taat beribadah. Mungkin karena itulah dia terlihat begitu tegar dan selalu ceria dalam mengahadapi cobaan hidup.

               Dengan langkah tenang, ku tinggalkan halaman rumah wak Jannah. Kurasa aku mulai mengantuk. setiba di rumah aku langsung menuju kamarku. Tidur bersama kedua adikku. Kulihat mereka sudah pulas. Akupun berniat menyusul mereka, meraih mimpi malamku.....


                Keesokan harinya...
                Saat akan berangkat ke sekolah, kulihat wak Jannah tengah duduk di bawah rumahnya. Dia tengah memilah-milah buah Duku hasil kerjanya semalam. Buah-buah Duku itu dia masukan ke dalam kantong-kantong plastik ukuran 1/5 kg. kemudian buah Duku itu di masukkan ke dalam ambung bersama dagangan lainnya. Ada sayuran, gorengan tahu, tempe, tak lupa pisang goreng pun ada. Biasanya wak Jannah berkeliling kampung menjajakan barang dagangannya. Dengan senyum terindahku, kusapa wak Jannah yang masih sibuk dengan barang dagangannya.

" waduh...!! sibuk ya wak...?, semalam pulang jam berapa..?, dapat Duku nya banyak ya wak..?" tanyaku

" Rin..Rin....Kamu tuh kalo nanya nggak bisa satu persatu ya..?, uwak bingung mau jawab yang mana..." katanya tanpa bergeming dari tempat duduknya.

" yang mana aja wak, yang penting di jawab..." ujarku.

" semalam uwak pulang jam 3, langsung bikin gorengan ini..." jawab nya seraya menunjuk ke arah keranjang yang penuh dengan kue basah dan gorengan.

" Wow hebat !!"

Dalam hatiku memuji wak Jannah, dia memang wanita kuat dan tegar. Kusapa ia sekali lagi sebelum aku berlalu.

" Wak, Rini berangkat sekolah dulu ya....daaa...daa....uwak...." kulambaikan tanganku padanya, kulihat dia tersenyum padaku.




                                                                       *********




            Dua tahun kemudian.....

            Di usia yang menginjak remaja, aku kembali melanjutkan study ke sekolah menengah atas. Orang tuaku memilih sekolah kejuruan untukku. Biar cepat dapat kerja, biar bisa mandiri, begitu kata bapak. Aku menurut saja. Di sekolahku yang baru, aku tinggal di asrama sekolah. Karena terlalu jauh kalau harus pulang pergi dari rumah ke sekolah. Ku tinggalkan kampung halaman ku., ku tinggalkan keluarga, termasuk wak Jannah yang sudah kuanggap seperti uwak ku sendiri.

            Setiap dua minggu, aku pulang mengunjungi keluarga dan kampung halaman ku. Meskipun tergolong sebagai kampung miskin, tapi aku bangga terlahir disana.

            Seperti biasa, hari itu saat pulang kampung aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah wak Jannah. Aku selalu senang mengobrol dengannya. Jika dia sedang tak bekerja, dia suka menceritakan kisah hidupnya padaku. Bak dua sahabat, kami pun saling berbagi kisah.

             Ketika ku tanya penyebab kematian almarhum suaminya, dengan santai wak Jannah menjawab: " Itu sudah kehendak yang kuasa Rin, penyebab kematian seseorang itu hanya kebetulan saja. Kalau Allah sudah menghendaki, kalau sudah tiba saatnya, kapan pun, dimana pun, kita tak bisa menolaknya. Karena kita pasti akan kembali. Kita tak boleh menyalahkan penyebab kematian, tapi kita harus mengambil hikmahnya dari setiap kejadian."

             Aku hanya diam mendengarkan wejangan wak jannah. Wak Jannah tak pernah bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan ku. Dan saat ku tanya arti dari namanya, dia pun tersenyum seraya mengatakan kalau namanya berarti surga.

             " kenapa Rin ?, ada yang aneh dengan nama uwak ya?" tanya nya penuh penasaran.

             " Iya wak !!" jawabku sekenanya.

             " Apanya yang aneh? " tanya nya lagi.

             " Begini wak, namaa uwak kan Jannah, berarti surga, tapi kenapa kehidupan uwak penuh dengan cobaan dan nestapa ?" jelasku.

              " Wak jannah tersenyum menatapku, sembari duduk di anak tangga rumahnya, dia pun kembali memberi wejangan padaku.

               " Rini...Rini....memang benar arti dari nama uwak adalah surga, tapi bukan berarti dengan memakai nama itu uwak bisa hidup bahagia seperti di surga. Namun uwak berharap, semoga suatu hari jika uwak telah tiada, uwak bisa menjadi salah satu penghuni surga_Nya.

                 Akh...aku terdiam mendengarnya, cita-cita wak Jannah sungguh indah. Dalam hatiku hanya berharap semoga Tuhan mengabulkan pintanya.





                                                                   ********





              Lima tahun kemudian......

              Aku tak pernah tau secara detail tentang kejadian-kejadian yang terjadi di kampung halamanku. Selepas SMU, aku mengadu nasib ke ibukota, bekerja disana. Hingga aku menemukan jodohku, menikah, dan menetap disana. Saat hari raya tiba, biasanya aku pulang kampung, tapi tak setiap hari raya aku bisa pulang. Seperti tahun ini, aku, suami, dan kedua anakku pulang kampung. Rindu rasanya dengan orang-orang yang aku cintai disana. Apalagi ku dengar kabar, bahwa setahun yang lalu orang tuaku pindah rumah ke kampung sebelah. Aku sangat ingin melihat keadaan mereka sekarang.

               Setiba di kampung, aku menuju kediaman orang tuaku. Tatapan mata-mata aneh, mulai kurasakan. Mungkin karena mereka tak mengenalku, dan aku pun tak kenal dengan mereka.

               Hingga saat akan melaksanakan sholat id, aku memutuskan untuk sholat id di kampung lamaku. Aku rindu dengan teman-temanku dan orang-orang yang ada disana.

               Bersama suamiku, akupun bergegas menuju sebuah masjid terbesar dan satu-satunya yang ada disana. Masjid Almuhajirin.  Masjid itu berdiri atas sumbangsih dari masyarakat.
Setiba disana, kulihat sudah sangat ramai, hingga aku harus rela hanya kebagian di saf belakang. Seperti biasa, sebelum sholat Id, pihak pengurus masjid menyampaikan berbagai macam pidato. Ada dari bagian zakat, laporan keuangan masjid, dll dech......
itulah adat dan tradisi di kampung ku.

               Usai sholat Id, kami pun saling bersalaman dan saling bersilaturahmi. Ku ulurkan tanganku tuk bersalam-salaman dengan teman lamaku. Tak lupa para ibu-ibu yang hadir juga ku jabat. Setelah kurasa cukup silaturahmiku, aku melipat mukena dan kumasukkan ke dalam tas jinjing yang ku bawa. Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang memanggil-manggil namaku.

               " Rinnnnnnii...."

                Spontan aku menoleh ke arah asal suara. Seorang ibu tua berdiri dan melihat kearahku. Dalam kebingungan yang tiba-tiba menghinggapi perasaanku, ku ulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya. Aku semakin bingung saat dia menyambut tanganku dengan tangan kirinya. Dia tersenyum menatapku. Dia tahu, bibirku menyimpan sejuta tanya untuknya.

                 " Rin, ini uwak...wak Jannah..!"

                 " kamu bingung ya melihat keadaan uwak seperti ini?"


                  Belum selesai penjelasannya, aku langsung memeluknya erat. Airmata ku tumpah bak cucuran air langit, membanjir deras tanpa mampu ku bendung. Aku menangis di pelukannya. Bibirku kelu tanpa sanggup berkata-kata. Aku hanya bisa menghapus airmataku saat wak Jannah mengatakan kalau tangannya putus karena kecelakaan. Setahun yang lalu, saat wak Jannah tengah menjajakan dagangannya di dekat stasiun kereta api. Tiba-tiba sebuah kereta api melaju kencang disisi tempat wak Jannah berdiri. Dan menyerempetnya hinga tangannya putus sebatas bahu.


                    Melihatku diam, wak jannah tersenyum padaku. Dengan tangan kirinya dia menggenggam tanganku. Tak ada duka di wajah nya. Tak ada airmata. Kulihat ketegaran itu tampak indah menghias wajah keriputnya.


                  " Kita tak perlu menangis, kita pun tak boleh menyesali diri, semua yang kita miliki adalah titipan dari yang kuasa, itu bukan milik kita. Meski kini uwak sebatang kara, tapi uwak bahagia, uwak bersyukur masih di beri kesempatan untuk terus beribadah. Saat Tuhan mengambil anak-anak uwak, uwak hanya bisa pasrah. Mungkin itu yang terbaik buat mereka. Mereka hanya amanah bagi uwak, uwak sudah berusaha menjaga dan mengobati mereka saat wabah malaria itu menyerang. Tapi mereka tetap pergi......mereka diambil Tuhan......uwak ikhlas...."
kulihat airmata menetes perlahan di pipi wak Jannah, ia usap dengan punggung tangannya. Pandang matanya kosong. Perih. Kulihat luka di hatinya. Aku pun kembali terisak di pelukannya. Erat aku memeluknya, hanya untuk berbagi beban yang memenuhi rongga dadanya. hanya itu yang bisa aku lakukan.

" Rin, uwak senang bisa melihatmu sekarang sudah bahagia, semoga kamu selalu bersyukur dan mengingat Tuhan dalam sujud-sujudmu.




                                                                    ********


               Kuhapus airmata ku, mengingat segala hal tentang wak jannah membuat ku kembali larut dalam kesedihan. Tapi di satu sisi hatiku, aku bahagia bisa mengenal orang sekuat dan setegar wak Jannah. Ku ingin mengenangnya sampai kapanpun, meski aku tak mampu seperti dia.

              Terimakasih wak Jannah, kau telah mengajarkan banyak hal berharga padaku. aku bangga padamu. Bangga.......





                                                              * * * *  S E L E S A I     * * * *


NOTE : Cerpen ini di muat dalam buku kumpulan cerpen " Sahabat Di kamar mandi" Karya Iis istrini.

CERITA DI SUATU PAGI

entah pukul berapa pesan singkat itu kau kirim
yang ku tahu, pesan singkatmu menghias layar handpone ku
saat ku terjaga pagi ini

met pagi cinta....
pagiku terasa sepi tanpamu, ku ingin kau hadir mendekap gigilku

pagi.....
sepi hanyalah bagian dari rasa, bukankah aku selalu ada untukmu?
bukankah ku tak pernah beranjak dari hatimu?, balasku

waktu menenggelamkan perasaan kita dalam diam

mungkin tengah kau nikmati sepi?
atau kau mencoba bersahabat dengannya?
waktu makin menyekapmu dalam diam
kau tak lagi berkabar

kini sepi mendesakku pada ruang tanya
"sedang apa kau disana?"

kubayangkan kau tersenyum
mencandai sebatang rokok dan secangkir cappuccino
seperti pagi itu saat kita samasama tundukan gigil dalam dekap


By_ Iis istrini

RINDUKU TERBAWA ARUS AIRMATA KITA

mengapa kau menangis sayang?
tanyamu di senja itu
apa kau merindu seseorang?

tak dapatkah kau temu galau di mataku
menulis pengakuan

rindu padamu di tiap fajar menyapaku
rindu padamu di tengah terik menyengat poriku
rindu padamu di setiap senja menyapa
rinduku padamu tak pernah tenggelam saat malam suram

aku merindumu sayang...
di setiap desah nafasku
di setiap denyut nadiku
mengalir menyusuri aliran darahku
menyatu dengan jiwa ragaku

masihkah ada tanya mengantarkan lelapmu?
atau,
ada segumpal ragu menyesak kalbumu

kau tahu, airmata kita telah hanyutkan rinduku...
mengikut arus kehidupan, tanpa mampu melawan


By_ iis istrini

Senin, 21 Februari 2011

DAN, MENTARI PUN BERLALU

cinta di langit hati mulai senja
cahaya kerinduan pudar seiring mentari redup perlahan

begitulah cinta
perlahan tapi pasti berlalu, seperti mentari senja itu
tak terasa lagi hangat peluknya
temaram......

langit jingga coba hadirkan indah
namun kabut malam menutup cakrawala

langit gerimis, hatiku basah
malam makin tenggelam, pekat
cinta kita tenggelam
kelam


by_ Iis istrini

Minggu, 20 Februari 2011

AKU MENCINTAIMU

aku mencintaimu
seperti ranting mencintai dedaunan
setia merajut hari hingga musim gugur menyapa
hingga dedaun pun berlalu dari tangkainya

aku  mencintaimu
seperti cinta pasir kepada ombak
tanpanya, pasir tak berarti apaapa
tanpanya, pasir hanya onggok tak berguna
ombak mengirim kisah indah untuknya

aku mencintaimu
seperti dedaun mencintai sang bayu
hembusan sejuknya, mengantar sejuta makna

aku mencintaimu
seperti malam mencintai rembulan
tanpanya, malammalam menjadi gulita
tanpanya, malam tak pernah indah tercipta

aku mencintaimu
mencintaimu......


Iis istrini_ 5 Des 2010

ADA RINDUMU DI SEPIKU

gegap gempita telah lenyap
semua senyap
mungkin masih terlelap

ada bulir rindu
diantara relungrelung kalbu
berdendang tanpa lagu

remuk redam
terbalut sepi
dalam angan yang ku nanti
tercipta rindu
padamu lelakiku


iis istrini_ April 2010

Cerpen & Puisi iis istrini









Tentang saya :

Iis istrini
Dilahirkan di cinta kasih, muara enim, sumatera selatan, 10 Agustus 1982. Ibu dua anak, M.Rafi alnaufal & M.Rasya al askhar. Mulai menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar, namun baru 3 tahun ini karya-karyanya di rangkum menjadi sebuah buku. Buku pertama, kumpulan cerpen berjudul : Sahabat di kamar mandiku (2010), dan buku keduanyaa antologi puisi berjudul: Ada rindu di sepiku (2011).
Dukungan dari keluarga, terutama suami, Tejo sunaryo, membuat ia selalu menulis dan menulis.
Di samping menulis, iis adalah seorang wirausaha. Ia merupkan pemilik dan pengelola Rasya cell, bisnis yang bergerak di bidang celluler.