Sabtu, 26 Maret 2011

TUHAN, SALAHKAH BILA AKU MENCINTAINYA

tentang aku :
Namaku Vielsya alwindira renqill, aku terlahir dari keluarga terhormat. Atau lebih tepatnya keluarga yang mencari kehormatan. Kehormatan yang telah hilang, hingga kami harus mencarinya. Ayahku seorang narapidana, pemasok heroin kelas atas di negeri ini, sementara ibuku, seorang pemasok para lelaki hidung belang atau yang lebih di kenal dengan sebutan gigolo, tak heran, bila sesekali ibuku mengencani sendiri stok barang yang dia punya. dan aku, tidak suka alias sangat tidak menyukai pria atau yang biasa di sebut laki-laki.

aku sangat membenci laki-laki. sebagaimana aku membenci ayahku dan para gigolo peliharaan ibuku.



Oh ya, panggil saja aku Viel.

saat ini aku tercatat sebagai salah satu siswa SMU di kota ku. Dengan seragam abu-abu yang aku kenakan, kalian pasti mengerti bahwa aku seorang remaja yang tengah ranum, dan sangat-sangat seksi di mata para lelaki. Dengan tinggi badan 165 cm, dan berat 50 kg, membuat diriku terlihat cantik dan semampai.



Sobat,
Dalam hidupku aku tak pernah mengenal yang namanya CINTA. Orang bilang cinta itu indah. Entahlah, itu tak pernah ku rasakan. Tak pernah ada laki-laki yang dekat dengan ku. karena aku membencinya. Ku habiskan hari-hariku bersama seorang sahabatku. Sebut saja namanya Lea, dia cantik, anggun, seksi dan cerdas. Aku sangat mengaguminya. Yupz..dialah sahabatku satu-satunya di dunia ini. Kebersamaan kami terjalin indah dalam balutan senyum dan tawa.

Tak terpisahkan !!
mungkin itu kata yang tepat untuk kami. Dimana ada Lea, disana pasti ada Viel. Pertemanan kami berawal karena aku dan Lea satu kost. Lea cantik, anggun, berkulit putih, dan terkesan pendiam. Sikap cuek yang dia miliki membuatnya terasing dari teman-teman yang lain. Dan aku, aku selalu ada untuknya.


******

Suatu hari, sepulang sekolah Lea menangis dikamar mandi tempat kost kami. sedu sedan dan isaknya terdengar memilukan. Nampaknya ia terluka. Aku hanya bisa diam. Ku dekati dia , ku rebahkan kepalanya di pundakku, erat tanganku memeluk pinggangnya.
ada kedamaian menyusup di antara puing-puing hatiku yang pernah terkoyak oleh manusia. Ya, Lea adalah sahabat satu-satunya yang tahu segalanya tentang diriku. Dia bagian paling berharga dalam duniaku.
Bukan ayah dan ibuku.

Sejenak kulihat Lea mengusap airmatanya. Kedua mata bening itu basah. Mata teduh itu tampak kosong, penuh luka.
Lea, siapa yang melakukan semua ini ?, yang membuat senyum indah mu sirna, yang membuat candamu hilang seketika. Kau nampak terluka.
Tuhan......tak tega diriku melihat luka menguak di kedua bolamata Lea.
Izinkan aku memberikan seuntai senyum untuknya, agar ia merasa dunia ini indah.

" Le'....ada apa denganmu?"
" kenapa kamu menangis..??"

Lea hanya menatap barisan ubin kamar mandi yang terdiam pasrah. seakan ia tumpahkan segenap perasaannya di sana. Tak kulihat sedikitpun tanda-tanda ia akan menatapku. atau sepenggal kata tuk mengungkap resahnya. Lea diam. Lea terluka. dan ini adalah lukaku. Sahabat Lea.

"Le'.....Please...ngomong donk !"
Lea masih diam, melepaskan pelukan eratku dari tubuh mungilnya. Yah...aku pasrah. Aku pun diam. Menikmati setiap titik-titik air yang tengah berderai menyapa bumi. Rinai hujan di senja ini terasa pilu di hatiku. Tiada lagi canda tawa, senda gurau, dan jerit pekik aku dan Lea yang tengah asyik bermandi hujan seperti di senja-senja kemarin.

" Viel........"
tiba-tiba samar kudengar suara Lea memanggilku.

" Iya Le'....bila memang kamu mau bicara, silahkan, tapi bila tidak saat ini, aku tidak apa-apa kok, aku ngerti perasaanmu....." ucapku seraya memandang hamparan rumput yang menghijau di kejauhan. sejuk merasuk dadaku bila mataku melihat keindahan alam yang di cipta Tuhan untuk umatnya itu.

" Viel.... Ternyata kamu benar. Lelaki itu jahat ya?, Rakha telah membuat aku menangis hari ini. Aku tak mau mengenalnya lagi......"

" Lho....??, kamu dan Rakha kan pacaran..?, kenapa kamu jadi begitu benci sama dia? " tanyaku dalam balutan rasa bingung.

" Iya Viel...Tapi sekarang tidak. Rakha mencintai Clara, bukan aku. aku melihat sendiri saat mereka berpelukan mesrah di belakang kantin sekolah tadi pagi....."

" Hmmmm......." aku hanya bisa menggumam mendengar tutur jujur dari Lea.

Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku marah, membuncah segenap rasa. Aku membenci airmata, sebagaimana aku benci ayah. aku membenci cinta, sebagaimana aku benci bila melihat ibu. Aku benci mereka..!!. Dan sekarang........RAKHA..!!. Dia telah membuat aku melihat airmata dan luka karena cinta. Aku membenci keduanya.



********




Sepulang sekolah aku sengaja berhenti sejenak di pertigaan jalan yang menuju tempat kost ku. Yupz...anak 2B belum pulang. Lea dan Rakha ada di kelas itu. Ku sandarkan sejenak lelahku di sisi rindangnya pohon palem yang terdiam kalem. sepoi angin membuat mataku sejenak terlelap.Tapi tak lama. Detik berikutnya telah berganti suara hiruk-pikuk anak-anak 2B yang mulai berhamburan keluar kelas. Sengaja aku tak beranjak dari tempat duduk ku. Mataku sibuk mencari sosok seorang lelaki dengan postur semampai dan atletis, rambut cepak, hidung mancung dan bermata elang. Rhaka. Ku tajamkan pandangan mataku, nanar kesana kemari, namun Rhaka tak menampakkan batang hidungnya. Entah kemana mahkluk yang satu itu. Semua teman sekelasnya nyaris menghilang satu persatu dari pandanganku, namun sosok yang ku cari tak jua ku jumpai.
Ukh, sial banget tuh anak, tau aja kalo aku lagi nungguin dia. Gerutu ku sembari melemparkan kerikil-kerikil kecil ke tepian jalan. Hari yang terik menambah panas otakku. Membakar tubuh dan emosi di jiwaku. Nyaris satu jam penantian ku, dari kejuhan kulihat sosok yang ku cari. Rakha. Tapi...upss...dia tengah berdua dengan Clara, pacar barunya. Ku kepalkan tinjuku, gigiku merapat hingga menimbulkan suara gemeletuk yang keras. Ingin ku tukar airmata Lea dengan darah dari bibir manis Rakha. Saat melintas di depanku, aku segera bangkit, menghalangi jalannnya. Sengaja aku berkacak pinggang di depannya. Dia memandang ku dengan pandangan aneh, begitu juga dengan Clara, si cewek pirang yang sok bule itu. Mataku lekat memandang kedua bola matanya, yang menurut cewek- cewek MATA ELANG itu. Ternyata dia pun menatap tajam ke arahku, nampaknya tak mau kalah. Bibirku mengatup menahan amarah. Gemeretak suara gigiku tak menyurutkan nyali nya. Hmm...boleh juga nih cowok, pikirku. Aku maju selangkah ke arah nya. Dia diam.

“ ough...jadi ini cowok yang bernama Rakha , yang di bilang tampan ama anak-anak 2B itu..?” huuh..!!
“hmm, emang kenapa?, kayaknya aku gak punya urusan dech ama kamu ! “ jawabnya seraya melepaskan pelukan di pinggang kekasihnya.
“ Jelas saja ada, karena kamu udah melukai perasaan Lea, dia sahabat ku, ngerti kamu !! “
“ ough...jadi si cengeng itu temen kamu ?”
“ Iya, baru tau ya?, dia sahabat ku, dan siapa pun yang menyakitinya maka akan berurusan dengan ku !”
“ huahahahaha...mau jadi dewi penolong Non....hahahaha....”
Bruaaaaaakkk.....
Tubuh Rakha tersungkur mencium semak belukar di sisinya berdiri. Kesabaran ku sudah habis, ternyata tendangan maut ku keren juga.( Hehehe...mampus kau !).
Rakha segera bangkit di bantu sama Clara sang kekasih hatinya.( Hoohohoho...kayak film india aja). Tak lupa Clara membersihkan kotoran yang menempel di baju Rakha. Wajah Rakha merah padam. Antara malu dan marah. Tiba- tiba Rakha mendekat ke arah ku, dan mengepalkan tinjunya, mengarah tepat di bibir ku. (upss...sabar boy...hehe), aku mengelak dengan santai. Tapi rupanya Rakha hanya mengecoh ku. Sesaat kemudian tendangannya telah bersarang di pantat ku. Wow...keren. ( lumayan juga sich, sakit). Dan aku tak mau menyerah begitu saja, seraya membalikan tubuh ku, kepalan tinjuku pun bersarang di bibirnya.
Dugh...!!
“ Ough..” Rakha menjerit tertahan. Darah segar menyembur dari pinggir bibirnya. Sementara Clara, menangis tersedu di bawah pohon palem melihat bibir kekasihnya mengucurkan darah. Mau mendekat tapi takut sama aku, jadinya dia hanya diam saja. Sementara Rakha masih berdiri tegak di depan ku. Tangan kanan nya mengusap- usap bibir nya yang berdarah.
“ Viel, kenapa sich kamu ngelakuin ini ke aku?, emang aku salah apa ke kamu, aku kan Cuma jahatin Lea, bukan kamu “
“ Hm, kayaknya pelajaran tadi belum cukup buat kamu !”
“ kok??”
“ Iya, kamu sudah bikin Lea nangis sehari semalam, jadi harusnya kedua sisi bibirmu itu aku hancurkan, karena ucapan dari bibir itulah yang bikin Lea nangis. Apalagi liat kamu peluk- pelukan ama Clara...huhu...hancur tuh hati sahabat ku, ngerti kamu !!”
“ Iya Viel, tapi kan, aku sudah bilang ke Lea, kalo kita udah gak ada hubungan apa- apa lagi alias PUTUS...”
“ Okey, Lea terima kok keputusan kamu, lagian, aku Cuma mau balaskan sakit hati teman ku aja kok..hehe....”
“ Gila kamu Viel !!, habis nonjok malah nyengir...dasar banci! “
Viel tau banget makna kata “Banci” yang di lontarkan Rakha. Karena memang penampilannya atletis dan cowok banget. Rambut nyaris cepak, dan tak pernah pakai rok. Untung di sekolahnya bebas. Tak ada larangan mau pakai rok atau celana panjang.
Huahahahahaha......
Tawa Viel membahana, tanpa a i u dia langsung ngeloyor pulang meninggalkan Rakha dan Clara yang masih bengong.

******

Lea duduk- duduk santai di beranda depan kamar kost nya. Sementara Viel sibuk dengan blender dan buah untuk di buat Juice. Sebuah Mangga yang telah ranum sudah di kupasnya. Kemudian dimasukannya ke dalam blender dan segera ia memencet tombol ON pada belender nya.
Zzziiiinggggg.....
Suara blender memecah kesunyian senja itu. Tak lama kemudian, hening. Dan, segelas juice mangga sudah ada di tangan Viel.
“ Le’, kamu mau juice mangga gak?”
Lea hanya mengangguk tanpa menatap ke arah Viel. Viel lalu duduk berselonjor kaki di sisi Lea. Mata nya memandang keindahan bunga- bunga aster yang bermekaran di taman. Di halaman tempat kost mereka. Warna- warni bunga aster itu nampak indah. Begitu pun dengan seekor kupu- kupu bersayap coklat yang terbang di atas kelopak bunga. Cantik sekali. Tiba-tiba tangan Viel meraih jemari Lea. Lea tersentak kaget karena genggaman tangan Viel di rasa aneh olehnya. Erat dan mesrah.
“ Viel, kamu kenapa?, kok kayak orang pacaran aja, kamu iri sama dua kupu- kupu itu ya?, jadinya kamu pegang tangan aku?...” tanya Lea heran.
‘ hehehe....”
Viel Cuma nyengir kuda. Tapi genggaman tangannya makin erat, dan sesaat kemudian Viel menggeser posisi duduknya merapat ke arah Lea. Lalu matanya menatap sendu ke dua bolamata Lea. Lea hanya diam, tak mengerti dengan sikap Viel padanya. Tiba- tiba Viel memejamkan matanya dan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Lea. Lea tersentak kaget, dan segera menjauh dari sisi Viel.
“ Viel, kamu kenapa sich ?, Aneh tauk !!”
“ Aku suka sama kamu Le, suka bukan hanya sebatas teman. Aku mencintaimu Le...” ucap Viel polos tanpa merasa bersalah.
“ Kamu serius Viel?, gila kali, masa’ kamu suka sama aku?, kita kan sama- sama cewek Viel..”
“ Justru itu Non !, aku gak suka cowok, makanya aku suka sama kamu..hehe...”
“ Ikh...gak akh...apaan sich kamu !”
Lea nampak kesal dengan sikap Viel. Lalu ia berlari menuju kamarnya. Sementara Viel hanya diam saja. Ia tetap duduk santai seraya menikmati segelas juice mangga buatannya.
Lea menangis tersedu di kamarnya. Ia tak menyangka kalau sahabat nya adalah seorang lesbi. Viel adalah sahabat baiknya. Viel juga segalanya buat dia. Tiga tahun kebersamaan mereka membuat kedua nya selayaknya saudara kandung. Lea tak sanggup menghadapi kenyataan tentang “penyakit” sahabatnya. Lea bingung apa yang harus dia lakukan.

Hingga malam menjelang pun mata Lea enggan terpejam. Sementara Viel sudah tertidur pulas disisi nya. Lea menggeser posisi tidurnya, ia merasa jijik melihat Viel yang ternyata seorang lesbi. Detak waktu menunjukkan angka 1 tengah malam. Lea masih tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya masih di hantui perasaan aneh atas kejujuran dan sikap Viel. Apa yang mesti dia lakukan sekarang?, tak mungkin baginya menerima cinta Viel. Tak mungkin pula ia meninggalkan sahabatnya itu. Akhirnya ia menangis di sisa malam yang kemudian berganti pagi.

****

Viel terbangun dan tersentak kaget melihat Lea tak ada di kamarnya pagi itu. Mulanya ia mengira kalau Lea tengah ke kamar mandi, tapi saat melihat lemari pakaian yang acak- acakan, tau lah dia bahwa Lea pergi. Viel segera bangkit untuk memeriksa lemari pakaian mereka. Benar saja. Pakaian Lea sudah tak nampak disana. Yang terlihat hanya selembar kertas dan sebait kalimat tulisan tangan Lea.
“ Maafkan aku Viel, aku terpaksa pergi, semua demi kebaikan kita. Aku tak bisa menrima mu sebagai kekasihku, tapi aku pun tak mampu menyakiti hatimu atas penolakan ku. Kau adalah sahabat, saudara, dan bagian terindah di hidupku. Selamat tinggal Viel...”

Airmata Viel menetes membasahi kertas putih di genggaman tangannya. Perlahan ia meremas kertas itu menjadi gumpalan. Lalu membuangnya ke lantai. Viel jatuh terduduk di lantai dengan lemas. Hari itu ia tak ingin berangkat ke sekolah. Ia bergegas mencuci muka lalu memakai sepatu kets nya, tak lupa sebuah ransel ia sandang di pundaknya. MENCARI LEA !!. itu tujuan nya hari ini

Jalanan pagi yang masih basah serta semilir angin dingin menusuk pori dan menikam tulang belulang tubuhnya. Tak menyurutkan langkahnya untuk mencari sahabatnya. Setiba di tepian jalan raya, ia menyetop kendaraan umum yang kebetulan lewat. Sebenarnya ia tak tahu harus kemana mencari lea, tapi ia ikuti saja kata hatinya. Baru beberapa kilo meter mobil berjalan, tiba-tiba nampak orang- orang berkerumun di tepian jalan. Suara ramai orang- orang itu membuat Viel penasaran. Dan ia pun turun dari angkutan umum. Menyeruak ke arah kerumunan massa.
Degh...degh...degh....
jantungnya berdegup kencang, perasaan cemas menghantui pikirannya. Benar saja, matanya terbelalak kaget begitu melihat siapa yang tergeletak di tempat itu. Lea. Lea kecelakaan. Darah mengucur deras dari hidung, mata serta telinga nya. Tapi jantungnya masih berdetak. Jemari tangannya masih hangat. Denyut nadi masih terasa di pergelangan tangan mungil itu. Menurut keterangan warga, pukul 03.00 WIB tadi, sekelompok anak muda mengadakan trek sepeda motor di kawasan itu. Tanpa sadar, Lea melintas. Dan akhirnya, lea tertabrak. Sementara anak- anak muda itu tak satu pun yang peduli.
Viel memegang lembut jemari tangan Lea yang sudah dingin dan mulai lemas. Airmata nya luruh, karena ia tau, Lea gak mungkin bisa selamat. Perlahan ia mengangkat tubuh Lea ke pangkuannya. Ia memeluknya erat. Hingga detik- detik hilangnya detak di nadi Lea. Viel histeris. Jiwanya goncang. Ia berteriak- teriak di pagi basah itu. Karena hujan tiba- tiba berderai luruh membasahi bumi.
“ Tuhaaaaaaannn...kenapa kau ambil dia???”
“ Dia satu- satu nya orang yang aku sayangi dan aku cintai, Tuhan...”
“ Kenapa bukan aku saja yang Kau ambil?, kenapa Tuhaaaannn....??”
Airmata makin deras mengguyur pipi tirus nya. Viel nyaris putus asa. Ia menelungkupkan tubuhnya ke tanah yang basah. Menyatu dengan air hujan yang semakin deras. Ia tak berdaya. Ia kehilangan. Ia sakit. Kembali tangan nya memeluk erat tubuh Lea, terdengar suara lirih dari bibirnya....
Tuhan...salahkah bila aku mencintainya ??



T A M A T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar